Tulisan tentang gentrifikasi dan kasus cat raid di Santa. Ini sudah direvisi.

Hari ini aku akan tulis ulang esai kemarin mengenai gentrifikasi di Pasar Santa. Postingan kemarin aku kaitkan dengan masalah kucing di Santa (soal cat raid mendadak).

Aku dapat banyak DM tentang postingan itu, ada yang pro, ada yang kontra. Maka aku tulis ini ulang supaya bisa klarifikasi: aku salah. Aku terlalu cepat berasumsi dan juga melampiaskan kekhawatiranku soal gentrifikasi kepada pihak yang salah. Aku juga langsung menuduh orang tanpa merenungkan atau membicarakan dulu sama mereka. Jadi aku mohon maaf kepada semuanya yang merasa tersinggung karena tulisanku. Kedepan aku akan berusaha untuk sabar dulu sebelum nulis, supaya lebih fair dan objektif.

Aku nggak akan delete postingan lama karena aku rasa sejarah itu perlu disimpan supaya kita (aku) bisa belajar, tapi pokoknya postingan lama itu mari kita anggap sebagai ‘archive’ saja. Mohon maaf kepada semua pembaca yang kecewa sama tulisanku.

Cat Raid

Kronologis masalah cat raid awal-awal begini: ada tenan baru masuk, dan setelah beberapa bulan mereka kirim email kepada Humas PDPJ mengenai kebersihan. Memang di Santa ada citra sedikit buruk, bahwa sampah disana ditinggal dan jarang dibersihkan sama petugas. Selain itu, Santa juga sudah terkenal karena banyak kucing; masalahnya adalah kadang-kadang (atau sering) pup dan pee di seluruh pasar nggak dibersihkan. Jadi, memang fakta bahwa Santa punya masalah kebersihan.

Beberapa hari atau minggu kemudian setelah email ini dikirim, terjadilah cat raid. Disini mulai rasa illfeel dan kecewa antara satu sama lain karena memang banyak asumsi. Cat raid sebenarnya bukan solusi tepat bagi siapapun, termasuk tenan yang kirim email itu. Nggak ada yang minta, dan nggak ada yang puas. Jadi ini bukan kemauan tenan siapapun.

Saya sudah lihat emailnya, dan memang emailnya nggak minta cat raid sama sekali. Sebenarnya, yang menjadi masalah utama bagi tenan ini kan kekurangan petugas kebersihan (yang mengakibatkan banyak sampah bertumpuk-tumpuk). Ini masalah bagi banyak tenan lain, nggak hanya tenan ini.

Nah, di email ini sempat tenan ini bilang bahwa “jumlah kucing liar semakin banyak, dan kotoran kucingnya membutuhkan waktu yang sangat lama untuk dibersihkan.” Lalu dia lanjut, “bisa sampai berhari hari karena minimnya petugas kebersihan juga”. Mungkin kalo orang baca seklias, mereka akan anggap bahwa masalah utama tenan ini adalah kucing, padahal tidak–di kalimat terakhir, tenan ini ajak PDPJ untuk mengadakan duduk bersama dengan pedagang lain untuk membuat Pasar Santa lebih baik + menyelesaikan masalah kebersihan. Itu solusi yang diinginkan: bukan cat raid.

Nah. Kalo emailnya memang dibaca sama PDPJ Santa, mungkin mereka akan asumsi bahwa masalahnya adalah kucing liar. Bisa aja, dipikiran mereka, “O, ya kalo memang jumlah kucing liar naik, ya tinggal ambil saja kucingnya.” Padahal yang tenan ini mau bukan cat raid tapi duduk bersama untuk cari jalan keluar.

Nah, PDPJ baca atau nggak, faktanya adalah mereka mengadakan cat raid tanpa menanyakan tenan-tenan dulu. Mereka balas email itu juga nggak. Jadi, alasan kenapa ada cat raid mendadak menjadi misteri untuk semua tenan dan pengunjung.

Akhirnya karena tindakan cat raid banyak kesalahpahaman, banyak kecewaan. Karena ya, memang ada yang menjaga kucingnya dan pasti rasanya sedih. Karena aku berkontribusi dengan tulis blog dalam keadaan marah, aku juga minta maaf.

Kemarin Sabtu tenan-tenan akhirnya mengadakan duduk bersama (dengan tenan dan pihak PDPJ) untuk bicarakan masalah sampah dan kebersihan, seperti tujuan awal tenan ini. Semua sudah damai dan semua sudah membuat kesepakatan.

Arti Gentrifikasi

“the process of renovating and improving a house or district so that it conforms to middle-class taste, or of making a person or activity more refined or polite”

Intinya, “gentrifikasi” ini terjadi

  • ketika orang kelas menengah atas datang ke tempat lain (yang mungkin mereka anggep lebih ‘rendah’)
  • mengubah sesuai keinginan dan kehendaknya
  • dengan tujuan“memperbaiki” tempat tersebut
  • supaya sesuai dengan standar-standar menengah ke atas

Ada beberapa efek gentrifikasi yang nggak selalu diinginkan:

1. Belum tentu penghuni lama setuju dengan perubahannya.

Ingat: beda bukan berarti buruk. Komunitas beda-beda punya cara masing-masing; adanya banyak cara bukan berarti ada satu yang lebih baik daripada yang lain. Ketika orang datang ke tempat yang bukan milik mereka, pertama yang mereka lakukan apa? Biasanya, mereka menyesuaikan diri.

Masalahnya kadang-kadang muncul ketika ‘pendatang’ tidak bisa berkomunikasi dengan baik sama ‘penghuni lama’. Tanpa menanyakan terlebih dahulu, mereka implementasikan perubahan yang sebenarnya nggak semuanya mau. Itu bisa jadi salah satu efek buruk gentrifikasi.

2. Karena harga terus naik atau budaya terus berubah, penghuni lama tidak sanggup tinggal disana lagi.

Biasanya gentrifikasi ini mulai karena tren. Satu orang masuk karena iseng pengen bikin bisnis, pasang harga mahal, dapat untung, orang lain lihat. Wah,” mereka bilang. “Gue mau buka juga dong di sana.” Ini awal-awal juga kelihatan baik. Uang masuk, kan? Tapi sebenarnya nggak juga, karena pasar jualan (target market) mereka bukan penghuni lama—seringkali, penghuni lama malah nggak sanggup bayar harga barang toko-toko ini.

Kalo bukan masalah harga, kadang-kadang bisa masalah budaya. Karena pendatang baru kebanyakan dari kelas atau budaya yang beda, tempat yang digentrifikasi disesuaikan sama selera mereka (sang ‘pendatang)–dan akhirnya, yang lama kehapus.

Pada dasarnya efek buruk gentrifikasi muncul ketika ‘pendatang’ dan ‘penghuni lama’ tidak bisa berkompromi. Gentrifikasi memang terjadi di seluruh dunia; ada beberapa ‘historic neighborhood’ yang di-gentrifikasi sampai akhirnya budaya dan penghuni lama kehapus total. Budaya yang ada bukan budaya sejati, tapi budaya yang dibuat khusus untuk menarik perhatian ‘pendatang’.

Contoh, di industri tourism–misalnya, kota kecil yang lucu dan gemes dapat perhatian mendadak, dan karena kebanyakan pendatang hanya lihat apa yang mereka ingin lihat, kota kecil ini merubah diri sampai akhirnya nggak dikenali lagi. Ujung-ujung hanya jadi ‘tourist trap’; pesona awal hilang. Itulah kesusahan dalam gentrifikasi: bagaimana kita menegosiasikan perubahan-perubahan baru dengan budaya yang lama supaya dua-duanya tetap bagus + sehat?

Kalo nggak hati-hati, gentrifikasi ini bisa seperti penjajahan skala kecil. Nggak hanya merusak budaya yang sudah ada, tapi juga menghapuskannya.

Gentrifikasi di Pasar Santa

Sekarang aku akan cerita tentang gentrifikasi yang terjadi di Pasar Santa pada tahun 2014-2015. Selama dua tahun itu, Pasar Santa cukup booming. Diliput dimana-mana, dan mendadak populer. Banyak kios makanan nge-hits, dan setiap weekend ramai sekali.

Karena demand untuk kios pasar naik, harga sewa juga ikut naik–bisa sampe 10-15, bahkan 20 juta per tahun (padahal aslinya sekitar 5-6jt). Bagi yang memang punya duit, mungkin kenaikkan harga ini masih bisa diterima. Tapi bagi beberapa yang lain, perubahan ini terasa sakit. Tapi mereka bingung juga: kalo mau bayar nanti takutnya malah nggak bisa nutup modal. Tapi jika mereka protest bahwa harganya terlalu tinggi, nanti pemilik kios bilang, “Yaudah, keluar aja. Nanti aku sewakan ke orang yang bisa bayar.” Cerita Santa memang sudah biasa, seperti trend-trend biasa di Jakarta–tempat jadi ngehits selama beberapa bulan, tapi terus orang-orang loncat ke trend/tempat berikutnya. Tapi walaupun jadi sepi lagi, harga sewa sudah dibayar. Akhirnya banyak yang rugi karena di akhir tahun 2015 jumlah pendatang sudah tidak banyak; di tahun 2016 dilaporkan bahwa sebanyak 30% pindah dari Santa karena harga sewa yang tinggi.

Okay, disini kekhawatiranku muncul. Dengan kedatangan banyak tenan baru, aku takut ini bisa saja terjadi lagi (kalo dilihat dari sisi tren sosiopolitik). Harga di Pasar Santa sudah turun lagi (sekitar 6-8 jt per tahun), tapi karena Santa mulai ramai dengan tenan baru lagi, sepertinya massa akan datang. Banyak teman saya berencana pindah ke Santa dan buka toko, dan harga sewa mereka tidak semuanya murah. Saya sedikit khawatir bahwa gentrifikasi bisa terjadi lagi jika orang baru (termasuk teman saya) tidak berhati”.

Gimana caranya melawan gentrifikasi?

Untuk melawan efek buruk gentrifikasi, semua orang harus turun tangan.

Tenan harus jaga hubungan sama tetangga.

  • Sudah kenal sama sekitarnya belum?
  • Sudah lihat suasananya belum?
  • Ada komunitas disana kah? Kalo iya, coba pahami dan jangan merugikan (misalnya, lagi ada acara baca puisi, ya jangan main lagu sampai volume 30000).
  • Sebaiknya, harga sewa harus menjadi ‘common knowledge’. Kenapa? Supaya harganya nggak naik terlalu parah. Entah solusinya adalah harga sewa pasar di-fix per tahun, atau tenan-tenan membuat kesepakatan sama PDPJ (price/rent control) supaya harganya stabil..
  • Apapun alasannya untuk buka di Pasar Santa, yang penting bisa berkompromi sama tetangga.

Pihak PDPJ/pasar harus bisa bertanggung jawab.

  • Fasilitas dan petugas kebersihan harus dijaga.
  • Sebelum bertindak, pihak PDPJ harus bisa mendengarkan keluhan tenan dulu.
  • Mungkin PDPJ bisa lebih sering mengunjungi Pasar Santa untuk ‘cek’, dan juga menanyakan kabar tenan-tenan disana.

Pengunjung juga harus ikut bantu.

  • Pasar Santa isinya banyak sekali anak indie dan makanan enak. Percaya deh. Bawa temanmu ke sana dan menikmati suasananya.
  • Ketika ada yang kamu suka di sana, share juga sama teman dan di sosmed.
  • Datang lebih sering! Kamu akan membantu usaha kreatif + kecil di Indonesia. Kalo datang sekali saja pas awal” booming ya nanti kamu ketinggalan perubahan lain yang membuat Santa makin bagus.
  • Jangan buang sampah sembarangan.
  • Beli barang dan makanan disana. (Karena kalo hanya datang sebentar terus pergi ya itu nggak membantu tenan yang sedang berdagangan 😅)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *